Beberapa bulan setelah itu, akhirnya aku dapat bersekolah di
Thailand. Aku berangkat ke Thailand bersama salah satu utusan dari sekolahku.
Setelah sampai di Thailand, seperti biasa aku mengontrak lagi L
. Sedih sih, tapi mau gimana lagi.
“Zee , ini kontrakan kau”
“Bayarnya berapa pak??”
“gak usah dipikirin, bayaran kontrakan sampai kau lulus dan
pulang lagi ke Indonesia gratis, karena ditanggung pemerintah”
“Makasih pak.”
“Terus biaya kuliah?”
“itu pun semuanya udah ditanggung pemerintah sampai lulus”
“makasih pak”
Hari
pertama kuliah. Ternyata disanapun ada kayak ospek gitu. ah sedih aku. Seperti
biasa karena aku masih anak baru, makannya aku di marah-marahin gitu. Tapi aku
gak terlalu sakit hati, karena kakak-kakak yang marahin disana pake bahasa
Thailand, aku kan gak terlalu ngerti, karena saat persiapan ke Thailand, aku
cuman belajar bahasa inggris saja. setelah beberapa bulan disana, akhirnya
ospeknya pun selesai.
Hari demi
hari aku di Universitas ini temanku masih sedikit. ya maklumlah orang-orang
disini gak pada bisa b.inggris, soalnya temen-temen aku pun terbata-bata
b.inggrisnya, apalagi yang lain, hehe. Aku sempat terkucilkan pula disini,
karena aku yang gak bisa bahasa Thailand.
Sejak
saat itu, aku jadi mati-matian belajar bahasa Thailand, ya karena aku tak mau
terkucilkanlah disini. Aku mencari dan terus mencari guru les bahasa Thailand
di sini. dan akhirnya aku pun mendapatkan guru. Tapi gurunya pun gak terlalu
lancar b.Inggrisnya, jadi agak susah juga komunikasinya :/ . Setelah dapet guru
bahasa, masih ada kendala yang aku hadapin. “Uangnya dari mana?”. Akhirnya aku
mutusin untuk ngambil uang sekolah aku.
Beberapa
bulan kemudian, akhirnya aku lancer b.Thailand. Tapi uang buat kuliah aku
habis. “ah payah”, sebuah kata yang terlontar dari mulutku. Tapi gak apa-apa,
yang penting aku akrab sama mahasiswa-mahasiswi di Universitas tempatku. Tapi
buruknya, aku harus mencari uang untuk biaya kuliah aku.
Setelah
berpikir untuk bekerja apa. Akhirnya aku mutusin buat ngamen. Mungkin pekerjaan
ini kurang layak, tapi mau gimana lagi? daripada aku harus pulang ke Indonesia
dan tak membawa apa-apa, mendingan juga ngamen.
- bersambung -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar