Karena aku penasaran, aku bermaksud untuk sekedar melihat anak
baru itu. Saat aku mengintip ke kelas 2, aku terpesona melihat wajahnya ,
sampai-sampai aku tak bisa berkata-kata(yah lebay banget). Ternyata kata si
Agung itu bener. Aku mulai berfikir sejenak “kok bisa ya di perkampungan yang
terpencil ini ada wanita secantik dia ??”. Aku pun berniat untuk mendekatinya,
tapi saat langkah kakiku hendak mendekatinya, ada lelaki lain yang mendekatinya
“yah keduluan aku” kata aku dalam hati. Saat aku lihat-lihat, ternyata lelaki
itu tak lain dan tak bukan adalah sahabatku sendiri yaitu Agung. Karena aku
lebih mentingin sahabat daripada “Cinta”, jadi aku memutuskan untuk mencoba
untuk tak mencintai anak baru itu.
Keesokan
harinya, seperti biasa Agung datang untuk mengajakku pergi ke sekolah. Di
perjalanan, Agung banyak cerita kepadaku tentang kedekatan dia dengan anak baru
tiu.
“zee, zee, aku udah deket loh sama Nattasha”
“hah Nattasha ?? siapa tuh??”
“itu loh anak baru yang aku ceritain kemaren”
Dengan
nada senang aku mengucapkan selamat kepada Agung, padahal di dalam hatiku ada
rasa sakit, tapi aku hiraukan demi sahabatku.
Setibanya
di sekolah, ya seperti biasa beres-beres, hehe. Dan lonceng pun berbunyi,
waktunya belajar. Saat jam istirahat, aku melihat Agung dan Nattasha sedang
berbincang-bincang. Mereka mulai cukup akrab, tapi aku lihat di wajahnya
Nattasha, kelihatannya dia tidak begitu suka kepada Agung.
Beberapa
bulan kemudian, Agung memberitahukan kepadaku bahwa dia akan menembak Nattasha.
“Zee, aku mau nembak si Nattasha”
“Hah?? Yakin kau??”
“yakinlah, aku dah suka banget sama dia”
“tapi kan kau masih kecil lah”
“tak apa lah, demi cinta, hehe”
“ya udah semoga berhasil”
“tapi tolongin aku ya??”
“tolongin apaan ??”
“aku gak berani nembak langsung, jadi aku mau ngasih dia
surat”
“oh, terus ngapain minta tolong ke aku ??”
“tolong kasihin suratnya lah ke Nattasha, Pliss??”
“iya deh iya”
Saat di
sekolah, aku mulai berjalan kearah Nattasha.
“Hai, aku Zee, aku temennya Agung”
“oh temennya Agung, Aku Nattasha, salam kenal ya”
“ok, aku mau ngasihin ini buat kamu”
“ini dari siapa?? Agung??”
“iya ini dari dia, ”
Dengan
rasa sedih di hatiku, aku memberikan surat itu ke Nattasha.
- bersambung -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar