Beberapa bulan kemudian, diumumkanlah kelulusan kelas 3 di
sekolahku. Dan aku sangat bersyukur karena aku dapet juara umum di sekolahku.
Oleh karena itu, aku pun mendapatkan beasiswa untuk meneruskan sekolah ke SMA
favorit di Jakarta, tapi aku harus seleksi dulu untuk masuk kesana.
Tibalah
di hari seleksi itu, aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh, jadi aku tinggal
berdoa aja supaya aku bisa keterima. Saat aku melihat soal-soal seleksi itu,
aku kira aku tak sanggup mengerjakannya. Pelajaran di kampungku dan di Jakarta
sangat jauh berbeda, mungkin karena ini Ibukota Negara, jadi persaingan pun
semakin ketat. Ya alhasil diciptakanlah kumpulan-kumpulan soal yang sulit,
hehehe.
Dan
akhirnya aku pun selesai mengerjakan soal-soal seleksi dengan susah payahnya.
Hatiku pun tak tenang, detak jantungku semakin tak menentu. Ya wajar saja, ini
kan yang menentukan masuk tidaknya aku ke sekolah favorit ini.
Setelah
diumumkan ternyata aku masuk ke sekolah ini, meskipun nilai ku bisa dibilang
pas-pasan, tapi aku sangat bersyukur karena bisa diterima.
Tapi di
balik kegembiraanku, ada rasa sedih dihatiku. Aku harus berpisah dengan orang
tuaku di kampung. Aku mengerti, bila aku mau bersekolah di Jakarta, aku harus
berpisah dengan orang tuaku, tapi sangat terasa sulit. Aku berpikir dan terus
berpikir, apakah aku harus meninggalkan orang tuaku demi mengejar cita-citaku
untuk bersekolah di Jakarta, atau aku harus disini bersama orang tuaku dan
bersekolah di tempat yang bisa dibilang agak kurang layak.
Aku pun
berbincang-bincang dengan orang tuaku tentang masalah ini
“bu, pa, aku mungkin akan sekolah disini saja”
“kenapa Zee?? Bukannya kau dapet beasiswa kan ke Jakarta??”
“iya sih, tapi aku takut Ibu dan Bapa nggak ngijinin, aku kan
disana lama banget.”
“walaupun Ibu dan bapa bakalan jauh dari kau, tapi Ibu dan
Bapa bakalan ngijinin kok, asalkan kau belajar dengan sungguh-sungguh, itu kan
demi ngejar cita-cita kau”
“makasih Bu, Pa”
Setelah
mendapatkan persetujuan dari Orang tuaku, aku langsung bersiap-siap untuk pergi
ke jakarta bersama salah satu guruku disekolah. Guru ku pun datang ke rumahku
dan bermaksud untuk menjemputku. Orangtua ku pun mendekati guru itu dan
mengobrol sebentar
“pak guru, Zee itu nanti tinggal bersama siapa di Jakarta??”
“disana dia bakalan mengontrak sendiri, tapi tenang saja bu,
pa, biaya kontrakan, biaya sekolah, dan biaya hidupnya disana sudah di tanggung
oleh beasiswa dari SMPnya dulu, tapi cuman satu tahun doang”
“terus kalo udah satu tahun, biayanya darimana??”
“ya harus bayar sendiri”
“kita kan orang tak punya lah, gimana tuh??”
“bisa sih gratis lagi, asalkan Zee bisa dapet juara umum, atau
minimal juara kelas di SMA itu”
“oh, semoga aja Zee bisa”
Akupun
keluar dari kamar dan menemui guruku. Aku berpamitan ke Orangtua ku untuk pergi
ke Jakarta bersama guruku itu. Dengan berat hati, aku meninggalkan perkampungan
yang telah memberikan kenangan yang sangat berarti bagiku.
Tibalah
di Jakarta, guruku pun langsung menunjukkan kontrakanku. Tempatnya lumayan
bagus sih, maklumlah katanya biaya sebulannya sampai Rp.600.000,- . Setelah
itu, guruku pun langsung menunjukkan sekolahanku, maklumlah saat aku seleksi
dulu, aku tak ke sekolahan ini, tapi aku mengerjakan soal-soal seleksi itu di
kampungku, tapi tetap ada yang mengawasi. Orang yang mengawasi itu tak lain dan
tak bukan adalah salah satu utusan dari SMA ini. Tak lama kemudian, guruku pun
langsung berpamitan untuk pulang. Aku berterima kasih kepada guruku itu karena
mau mengantar aku ke Jakarta.
- bersambung -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar