Minggu, 03 Februari 2013

Arti Dari Kesetiaan Part 5


Beberapa bulan kemudian, diumumkanlah kelulusan kelas 3 di sekolahku. Dan aku sangat bersyukur karena aku dapet juara umum di sekolahku. Oleh karena itu, aku pun mendapatkan beasiswa untuk meneruskan sekolah ke SMA favorit di Jakarta, tapi aku harus seleksi dulu untuk masuk kesana.
                Tibalah di hari seleksi itu, aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh, jadi aku tinggal berdoa aja supaya aku bisa keterima. Saat aku melihat soal-soal seleksi itu, aku kira aku tak sanggup mengerjakannya. Pelajaran di kampungku dan di Jakarta sangat jauh berbeda, mungkin karena ini Ibukota Negara, jadi persaingan pun semakin ketat. Ya alhasil diciptakanlah kumpulan-kumpulan soal yang sulit, hehehe.
                Dan akhirnya aku pun selesai mengerjakan soal-soal seleksi dengan susah payahnya. Hatiku pun tak tenang, detak jantungku semakin tak menentu. Ya wajar saja, ini kan yang menentukan masuk tidaknya aku ke sekolah favorit ini.
                Setelah diumumkan ternyata aku masuk ke sekolah ini, meskipun nilai ku bisa dibilang pas-pasan, tapi aku sangat bersyukur karena bisa diterima.


                Tapi di balik kegembiraanku, ada rasa sedih dihatiku. Aku harus berpisah dengan orang tuaku di kampung. Aku mengerti, bila aku mau bersekolah di Jakarta, aku harus berpisah dengan orang tuaku, tapi sangat terasa sulit. Aku berpikir dan terus berpikir, apakah aku harus meninggalkan orang tuaku demi mengejar cita-citaku untuk bersekolah di Jakarta, atau aku harus disini bersama orang tuaku dan bersekolah di tempat yang bisa dibilang agak kurang layak.
                Aku pun berbincang-bincang dengan orang tuaku tentang masalah ini
“bu, pa, aku mungkin akan sekolah disini saja”
“kenapa Zee?? Bukannya kau dapet beasiswa kan ke Jakarta??”
“iya sih, tapi aku takut Ibu dan Bapa nggak ngijinin, aku kan disana lama banget.”
“walaupun Ibu dan bapa bakalan jauh dari kau, tapi Ibu dan Bapa bakalan ngijinin kok, asalkan kau belajar dengan sungguh-sungguh, itu kan demi ngejar cita-cita kau”
“makasih Bu, Pa”
                Setelah mendapatkan persetujuan dari Orang tuaku, aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke jakarta bersama salah satu guruku disekolah. Guru ku pun datang ke rumahku dan bermaksud untuk menjemputku. Orangtua ku pun mendekati guru itu dan mengobrol sebentar
“pak guru, Zee itu nanti tinggal bersama siapa di Jakarta??”
“disana dia bakalan mengontrak sendiri, tapi tenang saja bu, pa, biaya kontrakan, biaya sekolah, dan biaya hidupnya disana sudah di tanggung oleh beasiswa dari SMPnya dulu, tapi cuman satu tahun doang”
“terus kalo udah satu tahun, biayanya darimana??”
“ya harus bayar sendiri”
“kita kan orang tak punya lah, gimana tuh??”
“bisa sih gratis lagi, asalkan Zee bisa dapet juara umum, atau minimal juara kelas di SMA itu”
“oh, semoga aja Zee bisa”
                Akupun keluar dari kamar dan menemui guruku. Aku berpamitan ke Orangtua ku untuk pergi ke Jakarta bersama guruku itu. Dengan berat hati, aku meninggalkan perkampungan yang telah memberikan kenangan yang sangat berarti bagiku.

                Tibalah di Jakarta, guruku pun langsung menunjukkan kontrakanku. Tempatnya lumayan bagus sih, maklumlah katanya biaya sebulannya sampai Rp.600.000,- . Setelah itu, guruku pun langsung menunjukkan sekolahanku, maklumlah saat aku seleksi dulu, aku tak ke sekolahan ini, tapi aku mengerjakan soal-soal seleksi itu di kampungku, tapi tetap ada yang mengawasi. Orang yang mengawasi itu tak lain dan tak bukan adalah salah satu utusan dari SMA ini. Tak lama kemudian, guruku pun langsung berpamitan untuk pulang. Aku berterima kasih kepada guruku itu karena mau mengantar aku ke Jakarta.


- bersambung -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar